Arsip Tag: Hukum Asuransi Syariah

Konsep Operasional Dana Tabarru Pada Asuransi Jiwa Syariah

Keberadaan rekening tabarru’ menjadi sangat penting untuk menjawab pertanyaan seputar ketidakjelasan asuransi dari sisi pembayaran klaim. Misalnya, seorang peserta mengambil paket asuransi jiwa dengan masa pertanggungan 10 tahun dengan manfaat 100 juta rupiah. Bila ia ditakdirkan meninggal dunia di tahun ke-empat dan baru sempat membayar sebesar 40 juta, maka ahli waris akan menerima sejumlah penuh 100 juta. Pertanyaannya, sisa pembayaran sebesar 60 juta diperoleh dari mana. Disinilah kemudian timbul gharar (ketidakjelasan), sehingga diperlukan mekanisme khusus untuk menghapus hal itu, yaitu penyediaan dana khusus untuk pembayaran klaim (yang pada hakekatnya untuk tujuan tolong-menolong) berupa rekening tabarru’.

Premi para nasabah dikumpulkan dalam rekening bersama yang disebut rekening dana tabarru. Tujuan dari dana bersama ini adalah untuk menolong para peserta jika di antara mereka ada yang mengalami musibah. Rekening ini milik para peserta, sedangkan perusahaan asuransi hanya sebagai pengelola yang menerima upah atau uang jasa.

Bagaimana konsep operasional dana tabarru ? Simak infografis ini

konsep-dana-tabarru-allianz-syariah Lanjutkan membaca Konsep Operasional Dana Tabarru Pada Asuransi Jiwa Syariah

Terlihat Sama, Tapi……Beda Akad, Beda Hukumnya

Hukum Islam bertujuan untuk melindungi semuanya, harus sama hak dan kewajiban antara si pembeli dan si penjual. Sama-sama bisa untung, sama-sama bisa rugi.

akad-syariah

Banyak yang masih meragukan asuransi syariah sebagai produk keuangan yang halal dan memandang asuransi syariah sama saja dengan asuransi konvensional, dan menganggap dua – duanya haram. Padahal asuransi syariah dan konvensional memiliki perbedaan mendasar dalam beberapa hal prinsip, salah satunya dalam hal akad.  Akad ialah: perikatan ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan kabul (pernyataan penerimaan ikatan) yang dibenarkan syara’ yang menetapkan kerelaan kedua belah pihak.

Kepemilikan dana klaim/tabarru’ pada asuransi syariah merupakan hak peserta. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya secara syariah. Pada asuransi konvensional, dana yang terkumpul dari nasabah (premi) menjadi milik perusahaan, sehingga perusahaan bebas menentukan alokasi investasinya (bisa masuk ke instrument investasi non syariah). Pembayaran klaim pada asuransi syariah diambil dari dana tabbaru’(dana kebajikan). Pada asuransi konvensional pembayaran klaim diambilkan dari rekening dana perusahaan. Asuransi syariah menggunakan sistem berbagi resiko – sharing of risk (saling membantu antar peserta), sedangkan pada asuransi konvensional yang dilakukan adalah pemindahan resiko –transfer of risk (jual beli antara peserta dan perusahaan).

Jelas asuransi syariah dan konvensional memang sangat berbeda dalam akad dan cara kerjanya, yang menyebabkan asuransi syariah bersih dari gharar,  maysir dan riba. Asuransi syariah halal.

Uraian tulisan ini selanjutnya berasal dari kiriman whatsapp rekan saya yang merupakan contoh pesan berantai yang bagus, dan dapat menggambarkan dengan jelas adanya perbedaan akad dari suatu transaksi, dapat menyebabkan perbedaan hukum dari transaksi itu, meski terlihat transaksinya seolah – olah sama.

👳🏽 Gimana kabarnya mbak ?

🙎🏻 Sehat dek, alhamdulillah.

👳🏽 Ini saya selain silaturahmi juga ada perlu mbak.

🙎🏻 Apa apa dek…apa yang bisa tak bantu.

👳🏽 Anu..kalau ada uang 20juta saya mau pinjam.

🙎🏻 Dua puluh juta? Banyak sekali. Untuk apa dek? Lanjutkan membaca Terlihat Sama, Tapi……Beda Akad, Beda Hukumnya

Ikhtiar adalah perintah agama, asuransi syariah merupakan bentuk ikhtiar

asuransi jiwa syariah, merupakan bentuk ikhtiar sebab kita tidak mempunyai kuasa mengetahui masa depan…setiap manusia pasti meninggal dunia, dan tidak tahu kapan terjadinya

hadits-tirmidzi-trust-allah-but-tie-your-camel-tawakal-ikhtiar

Bismillahirrahmanirrahim. Kata ikhtiar berasal dari bahasa Arab  yang berarti memilih. Ikhtiar dapat diartikan berusaha, sebab pada hakikatnya orang yang berusaha berarti memilih. Adapun menurut istilah, berusaha dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada untuk meraih suatu harapan dan keinginan yang dicita-citakan, ikhtiar juga juga dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh yang dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan hidup, baik di dunia atau di akhirat.

Beberapa dalil yang memerintahkan kita untuk berikhtiar antara lain:

Surat Al-Jumuah ayat 9-10 yang artinya: (9) Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
(10) Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak – banyak supaya kamu beruntung.

Hadits Al-Bukhori nomor 1378 yang artinya: Telah menceritakan kepada kami [Musa] telah menceritakan kepada kami [Wuhaib] telah menceritakan kepada kami [Hisyam] dari [bapaknya] dari [Az Zubair bin Al ‘Awam radliallahu ‘anhu] dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh seorang dari kalian yang mengambil talinya lalu dia mencari seikat kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya kemudian dia menjualnya lalu Allah mencukupkannya dengan kayu itu lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada manusia, baik manusia itu memberinya atau menolaknya”. Lanjutkan membaca Ikhtiar adalah perintah agama, asuransi syariah merupakan bentuk ikhtiar

Hukum Asuransi Syariah: Tanggapan terhadap Pendapat yang Mengharamkan

“Dalam muamalah, hukum asalnya boleh selama tidak ada dalil yang melarang.”

indexMateri utama tulisan saya kali ini diambil sepenuhnya dari web Bapak Asep Sopyan, leader saya di Allianz Jakarta. Tulisan tersebut merupakan hasil riset dan tinjauan beliau yang menurut saya sangat komprehensif (luas, lengkap, dapat dimengerti). Sejauh ini tulisan Bapak Asep tersebut merupakan yang pertama yang ada di internet, yang membahas sanggahan tentang pendapat yang mengharamkan asuransi syariah.

http://myallisya.com/2015/05/01/hukum-asuransi-syariah-tanggapan-terhadap-pendapat-yang-mengharamkan/

Menurut pendapat saya, asuransi syariah jelas halal. Mungkin di dalamnya masih terdapat ruang untuk peningkatan ke arah yang lebih baik, namun apa yang ada sekarang sudah bisa dipertanggungjawabkan ke-halal-annya. Uraian di bawah ini merupakan jawaban atas keraguan masyarakat karena pendapat yang mengharamkan asuransi syariah. Meski tulisannya terlihat panjang , namun sangat layak untuk dibaca kata demi kata. Semoga para pembaca yang sampai saat ini masih menunda – nunda memiliki polis asuransi syariah karena masih meragukan ke-halal-annya bisa mendapatkan keyakinan kembali akan manfaat dan berkah asuransi syariah. Selamat membaca uraian yang mencerahkan di bawah ini. Lanjutkan membaca Hukum Asuransi Syariah: Tanggapan terhadap Pendapat yang Mengharamkan