Menatap Tahun 2016 Dengan Keberanian

Investment Outlook 2016

Greeting from Mr Joachim Wessling

(Klik gambar untuk membaca lebih jelas)

Kondisi Apa yang Ada di Hadapan ?

Narasumber: Eugen Walter Loeffler –  Allianz Investment Management

Investor akan mengingat 2015 sebagai tahun yang bergejolak dan menantang dengan banyak kejutan. Setelah 6 tahun kebijakan suku bunga nol, Bank Sentral AS (Federal Reserve – The Fed) akhirnya menaikkan suku bunga pada bulan Desember, yang menandakan awal normalisasi kebijakan moneter. Kekhawatiran atas kenaikan suku bunga AS berdampak negatif terhadap ekonomi dan mata uang Asia sepanjang 2015. Sebagiar besar mata uang Asia melemah tajam sepanjang tahun, dengan dampak terbesar pada negara yang tengah mengalami defisit transaksi berjalan.

Ketika pemulihan kondisi ekonomi di AS tampaknya berada di jalur yang menjanjikan, pertumbuhan ekonomi di sebagian besar belahan dunia lainnya jauh berbeda. Pemulihan ekonomi Jepang belum terlihat dan inflasi masih tetap rendah meskipun kebijakan pelonggaran kuantitatif (QE) yang agresif oleh Bank of Japan terus dijalankan. Zona Eropa mengalami pemulihan bertahap, dibantu oleh lemahnya Euro. Namun, tingkat pengangguran dan tingkat utang di Zona Eropa tetap tinggi. Bank Sentral Zona Eropa – ECB mengumumkan perpanjangan program QE dan mengisyaratkan tekad untuk meningkatkan inflasi ke level 2% sebagai target.

Ekonomi Cina terus melambat pada tahun 2015, dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil yang melambat ke level terendah dalam 15 tahun (tidak termasuk perlambatan Krisis Keuangan Global tahun 2008). Pasar saham domestik Cina, ‘A share’ melonjak tajam di paruh pertama 2015 mencapai tingkat valuasi yang tidak stabil, sebelum runtuh sebesar 40% dari puncak. Hal ini menyebabkan kekhawatiran yang meluas terhadap terganggunya pertumbuhan ekonomi dan lunturnya kepercayaan terhadap kekuatan perekonomian Cina. Kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi Cina yang Iebih parah dari perkiraan diperburuk oleh depresiasi RMB secara tiba-tiba pada bulan Agustus.

Melengkapi kelesuan di sebagian besar belahan dunia dan terus merosotnya harga komoditas, investor menjadi semakin khawatir tentang keadaan ekonomi global. Dengan latar belakang ini, tidak mengherankan banyak korporasi melaporkan kinerja dan pendapatan yang buruk sehingga mempengaruhi kinerja pasar ekuitas global. Pasar negara maju mengakhiri tahun secara relatif lebih baik: Jepang (Nikkei +8,8%), AS (Dow Jones -1,65%) dan Eropa (Euro Stoxx 50 + 3,5%). Pasar Asia pada umumnya terseok-seok: Cilia (I-ISCEI -18,3%), India (Sensex -5,4%), Taiwan (TWSE -10,9%), Thailand (SET -14,3%), Filipina (PSEI -3,9%), Singapura (5T1-14,2 %), Indonesia (IHSG -12,8%), Korea (KOSPI + 2,7%) dan Malaysia (KLCI -4,5%),

Indonesia memulai tahun 2015 dengan harapan tinggi bahwa Presiden baru Joko Widodo (Jokowi) akan dapat menggulirkan program infrastruktur yang lama tertunda, memberantas korupsi, meningkatkan kemudahan berbisnis, serta memangkas subsidi BBM dan listrik. Optimisme cepat berubah menjadi skeptisme ketika kebijakan Presiden Jokowi ini menyebabkan kebingungan, seperti: intervensi harga semen dan tarif tol, kebijakan pajak yang tidak pasti, pertarungan politik dan kemacetan birokrasi. Keprihatinan ini bersamaan dengan perlambatan ekonomi, depresiasi lanjutan dari Rupiah, dan penurunan pendapatan perusahaan mengakibatkan aksi jual di pasar ekuitas.

Presiden Jokowi menanggapi dengan cepat kritik dari kepemimpinannya dengan melakukan reshuffle terhadap anggota kabinetnya, menjangkau partai politik oposisi, mengumumkan serangkaian paket stimulus ekonomi dan percepatan program infrastruktur. Di antara paket stimulus yang telah diumumkan, kami melihat rencana pengampunan pajak (tax amnesty) memiliki potensi untuk meningkatkan penerimaan pajak pada tahun 2016 dan untuk mempercepat investasi di dalam negeri.

Komitmen2016Kami percaya kinerja ekuitas pada tahun 2016 akan menjadl tidak pasti, mempertimbangkan pertemuan antara faktor positif dan negatlf. Faktor positif berupa rencana ekonomi Presiden Jokowi yang tampaknya mulal bergulir dan proyek infrastruktur yang secara bertahap telah lepas landas, Rupiah sudah lebih stabil pasca kenaikan suku bunga The Fed, memberikan ruang bagi Bank lndonesia untuk menurunkan suku bunga acuan. Sedangkan hal yang negatif, masih ada kekhawatiran tentang melemahnya permintaan agregat dunia, pertumbuhan ekonomi Cina, dan kemungkinan depresiasi lebih ranjut dalam RMB. Laju kenaikan suku bunga AS pada tahun 2016 ini juga penting untuk diperhatikan mengingat dampak yang mungkin terjadi terhadap Rupiah. Mengingat valuasi pasar saham Indonesia berada pada sisi yang relatif tinggi, kami akan disiplin untuk tidak memilih saham yang harganya sudah melambung dan lebih memilih saham atau sektor yang kurang diminati pasar. Kami terus fokus pada perusahaan dengan model bisnis yang kuat dan berkelanjutan yang dijalankan oleh manajemen yang jujur dan kompeten.

Imbal hasil obligasi domestik di Indonesia meningkat secara keseluruhan di tahun 2015, dengan kurva yield obligasi Pemerintah bergeser naik secara serentak, dengan melemahnya Rupiah (dari 12.412 vs USD pada akhir 2014 menjadi 13.850 vs USD pada akhir 2015; depresiasi efektif 12,4%) dipicu arus keluar dari obligasi domestik. Yield obligasi 2 tahun menutup 2015 pada 8,4% (103 basis poin lebih tinggi dari 7,39% pada akhir 2014) dan yield 10 tahun menutup 2015 pada 8,7% (86 basis poin lebih tinggi dari 7,8% pada akhir 2014). Kepemilikan asing dari obligasi Pemerintah Indonesia yang beredar turun dari 38,1 3% pada akhir 2014 menjadi sekitar 32,0% pada akhir Oktober 2015. Kami terus melihat arus dana asing sebagai pendorong utama pasar pendapatan tetap mengingat kenaikan suku bunga pertama Fed pada bulan Desember 2015 dan harapan kenaikan suku bunga lebih lanjut pada tahun 2016. Defisit transaksi berjalan yang sedang berlangsung, tekanan terhadap Rupiah yang mungkin mengakibatkan peningkatan volatilitas mata uang, serta risiko pelemahan yang fluktuatif mungkin memicu dana keluar. Kami berada sedikit di bawah durasi dibandingkan pada imbal hasil saat ini dan akan mengumpulkan obligasi Pemerintah dengan jangka waktu lebih panjang secara oportunis. Kami mempertahankan pandangan netral pada obligasi quasi-sovereign dan korporasi karena imbal hasil yang lebih tinggi masih mengkompensasi risiko kredit dan membuatnya menarik pada level saat ini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s