Kenalan Pertama : “Dibayari” Kantor

“sehat wal afiat itu harus disyukuri, karena merupakan rejeki yang luar biasa, tak ternilai, dan sangat mahal tebusannya”

Asuransi-KesehatanAwal perkenalan saya dengan asuransi adalah dengan tidak sengaja, prosesnya berjenjang, dan saya juga tidak serta merta langsung merasakan manfaatnya. Sebagai seorang karyawan, saya diikutkan jaminan asuransi kesehatan oleh perusahaan dari awal masuk kerja.

Ini program perusahaan, dan bukan merupakan pilihan. Meski sejak dahulu saya melihat di slip pembayaran gaji tidak pernah terdapat potongan untuk program asuransi ini, saya tetap meyakini bahwa ada sebagian dari nilai kerja saya yg dirupakan dalam bentuk pelayanan jaminan kesehatan ini. Saya tidak tahu berapa, tapi pasti ada.

Awal – awal bekerja sampai beberapa tahun kemudian, bisa dibilang saya tidak menggunakan fasilitas jaminan kesehatan ini.

Alhamdulillah, waktu itu saya masi muda, kuat, fisik masih prima, dan yang ternyata sangat ikut menentukan kemudian, waktu itu saya masih lajang, belum punya tanggungan selain diri sendiri. Palingan sakit juga demam atau flu biasa, yang karena saja juga gak seberapa hobi pergi ke rumah sakit, penyelesaiannya juga cukup dari obat warung.

Sepertinya ada nilai kerja saya yang berupa jaminan asuransi ini seolah – olah terbuang percuma karena saya belum menggunakan, dan bisa saja nilainya lumayan. Mungkin karena saya tidak pernah tahu nilainya berapa, akhirnya pikiran rugi karena ikut asuransi di perusahaan cuma sekelebatan saja dan tidak terlalu menjadi pikiran.

Seiring dengan waktu, grade asuransi saya di kantor naik….yang saya lihat itu mengikuti pendapatan saya dari kantor. Jadi teori kalo memang ada nilai kerja saya berperan dalam pelayanan asuransi yang diberikan untuk saya, ada bukti tidak langsungnya.

Sebenarnya saya bayar premi juga, cuman secara virtual dan saya tidak tahu berapa nilainya. Waktu itu saya juga sudah melihat, rata – rata teman kantor bercerita, memang mereka sendiri jarang memakai asuransi kantor, tapi kalo keluarga mereka (istri dan anak), lain cerita. Saya juga melihat seorang rekan saya yang menderita penyakit dalam melakukan terapi selama setahun lebih, dengan menggunakan asuransi kantor.

Jadi yang saya lihat kemudian, dari iuran virtual yang saya berikan mungkin saya belum merasakan apa – apa, tapi rekan – rekan kerja saya dan keluarganya sudah menerima manfaatnya. Dan bila diberi pilihan, saya pasti lebih suka diri saya sehat wal afiat dan biarlah premi virtual yang saya berikan dimanfaatkan oleh orang lain dan keluarganya.

Setelah berkeluarga, apa yang saya lihat di rekan kerja saya dahulu, mulai saya alami. Saya mulai sering ke rumah sakit, mengantarkan anak – anak periksa ke dokter. Entah itu untuk imunisasi, demam yang tak kunjung reda, atau sakit lainnya.

Bahkan untuk pertama kali dalam sejarah selama bekerja, kartu cashless asuransi saya tahun lalu ditolak oleh rumah sakit saat imunisasi, itu karena plafon untuk rawat jalan sudah overlimit. Tahun ini saya iseng2 menelepon Jakarta melakukan cek ke provider, dan plafon rawat jalan keluarga saya periode ini tinggal 15%; insyaallah masih cukup sampai perpanjangan kartu yang tinggal beberapa bulan lagi.

Maka untuk kondisi ini, gantian saya yang merasa tertolong, dan untuk siapa pun orang di perusahaan saya yang iuran premi virtualnya masi nganggur atau surplus, saya berterima kasih. Saya juga berterima kasih dengan kantor, dan orang – orang di balik system asuransi kesehatan itu.

Saya tetap tidak tahu pasti berapa nilai premi virtual yang saya bayar, tapi dari perbandingan pendapatan saya bulanan, dan nilai manfaat yang saya terima buat keluarga saya selama 2 tahun ini, saya sangat yakin, nilai premi virtual saya masih kalah. Tahun lalu saya overlimit dan periode sekarang tinggal 15% di rawat jalan, belum lagi kelahiran anak – anak saya, yang harus lewat pembedahan, ditanggung asuransi.

Sesaat setelah lahir prematur, anak – anak saya langsung masuk NICU, ditanggung juga. Ditambah lagi saat 4x anak – anak saya opname sepanjang 2 tahun ini, semuanya ditanggung asuransi. Saya relatif tidak keluar uang banyak untuk semua itu. Kebanyakan coverage asuransi saya yang berbicara.

Tahun 2015 ini dan tahun – tahun selanjutnya, sebisa mungkin saya dan keluarga sehat selalu, dan biarlah saya menjadi donatur saja lewat premi virtual saya.

Satu hal yang saya pelajari dengan cara yang susah dan tidak enak, saat melihat anak saya sakit, disuntik, diambil darah, diinfus, dipaksa minum obat, tergeletak lemah tak berdaya dan lain sebagainya di rumah sakit, saya membuktikan sendiri, sehat wal afiat itu harus disyukuri, karena merupakan rejeki yang luar biasa, tak ternilai, dan sangat mahal tebusannya.

SmartMed Premier Allianz, adalah asuransi kesehatan Allianz yang mengcover semua biaya rawat inap sampai dengan 6 milyar per tahun, asuransi kesehatan terbaik dari Allianz
Untuk layanan konsultasi gratis asuransi jiwa dan kesehatan Allianz, hubungilah kami, Agen Asuransi Allianz di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur.

logo-allianz-surabaya

HP/SMS/WA/Telegram : 085777999526
Pin BB : D47B25B3
Email : anugrah.allisya@gmail.com
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s